Minggu, 23 Februari 2020

FIQH DALAM SHOLAT SUNNAH


FIQH TENTANG SHALAT SUNAH

MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Ilmu Fiqh
Dosen Pengampu:

DR. H. MUSAHADI, M.Ag.



Di susun oleh
1.      Dian Putra Laroybafih                  (1905036056 )



FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2019


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kita sebagai umat muslim diwajibkan mendirikan shalat, karena shalat itu merupakan tiang agama. Shalat itu seperti pondasi sebuah rumah yang akan menentukan berdiri atau tidaknya agama dalam diri seseorang muslim di dunia ini. Bagi seorang yang sudah baligh di larang keras meninggalakan shalat dalam keadaan disengaja maupun tidak sengaja. Dalam syariat islam shalat terbagi dalam dua macam yaitu yang pertama shalat wajib yakni shalat yang diwajibkan bagi umat muslim baik laki-laki ataupun perempuan untuk mendirikannya. Shalat sunnah pun dibagi menjadi dua macam yakni shalat sunnah muakkad dan shalat sunnah ghairu muakkad. Muakkad artinya dianjurkan, jadi shalat sunnah itu ada yang dianjurkan untuk dilaksanakan setiap muslim, ada juga shalat sunnah yang tidak dianjurkan untuk melaksanakannya, tapi sebagaimana hukumnya sunnah bila dikerjakan berpahala dan apabila ditinggalkan tidak apa-apa. Meskipun shalat sunah tidak di kerjakan tidak apa-apa namun kita sebagai umat islam sepatutnya akan mencari pahala berlebih dengan menjalakan shalat sunnah tersebut. Hal tersebut merupakan rahmat dari Allah Swt kepada para hambanya karena Allah mensyariatkan bagi setiap kewajiban, sunnah yang sejenis agar orang mukmin bertambah imannya dengan melakukan perkara yang sunnah, dan menyempurnakan yang wajib pada hari kiamat, karena kewajiban-kewajiban mungkin yang kurang. Sebagaimana sabda beliau bahwa ingkar pada sunnah adalah  sikap yang tidak dibenarkan. [1]





B.     Rumusan Masalah
Di dalam sebuah makalah ini penulis akan mengangkat beberapa permasalahan dalam lingkup shalat sunnah menurut ilmu fiqh Diantaranya :
1.      Bagaimana pengertian shalat sunnah ?
2.      Apa pengertian shalat sunnah munfarid dan berjamaah ?
3.      Bagaimana pengertian macam-macam shalat sunnah ?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian shalat sunnah
2.      Mengetahui pengertian shalat sunnah munfarid dan berjamaah
3.      Mengetahui pengertian macam-macam shalat sunnah
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Shalat Sunnah
Shalat sunnah adalah sholat yang dikerjakan di luar sholat fardhu. Nabi Muhammad SAW mengerjakan sholat sunnah selain untuk mendekatkan diri kepada Allah juga mengharapkan tambahan pahala.[2] Dalam peraturan pahala shalat sunnah ini akan menguntungkan bagi seorang muslim yang menjalankan karena akan mendapatkan pahala, namun ketika berhalangan untuk mengerjakannya tidak akan mendapatkan dosa.
B.     Pengertian shalat sunnah munfarid dan berjamaah
Shalat sunnah berjamaah terdiri dari imam dan makmum karena shalat ini dilakukan secara bersama-sama. Pemimpin dalam sesuatu kegiatan biasa disebut imam dan yang menjadi umumnya adalah  laki-laki dewasa, sudah baligh, dan paham akan agama. Makmum  adalah yang baris di belakang imam dan  mengikuti gerakan shalat nya namun tidak boleh mendahului imam. Selain itu, juga harus berniat menjadi makmum. Imam lebih diutamakan orang yang fasih (baik) dalam membaca Al- Qur'an. Imam laki-laki, maka makmumnya boleh laki-laki dan perempuan. Adapun jika imamnya perempuan, maka makmumnya harus perempuan pula. Rasulullah saw bersabda yang artinya :
“Dan janganlah orang perempuan menjadi imam bagi laki-laki.” (H.R. Ibnu Majah:1071).
Shalat sunnah munfarid adalah shalat yang dikerjakan sendiri. Shalat sunnah munfarid adalah shalat sunnah yang dilakukan sendiri, tidak ada imam ataupun makmum. Ketentuan shalat munfarid sama dengan ketentuan shalat pada umumnya, yaitu memenuhi syarat dan rukun shalat, suci badan, pakaian, dan tempat dari hadas maupun najis.[3]
C.    Macam-macam shalat sunnah
1.      Shalat Rawatib
Shalat sunnah rawatib ialah shalat sunnah yang dikerjakan mengiringi shalat fardhu, baik sebelumya (qobliyah) atau sesudahnya (ba’diyah).[4] Jumlah shalat sunnah rawatib ada 22 rakaat, yang sepuluh rakaat muakkad (sangat dianjurkan) dan yang 12 ghoiru muakkad (dianjurkan).[5] Dengan dibagi sebagai berikut :
a.       Dua rakaat sebelum shalat fardhu shubuh
b.      Dua rakaat sebelum shalat fardhu dzuhur atau jum’at
c.       Dua rakaat setelah shalat fardhu dzuhur atau jum’at
d.      Dua rakaat setelah shalat fardhu maghrib
e.       Dua rakaat setelah shalat fardhu isya’
  
Hal tersebut sesuai dengan pendapat empat imam madzab dalam buku Fiqih Empat Madzab karya Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi bahwa empat imam madzab sepakat shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat fardhu adalah dua rakaat sebelum shalat subuh, dua rakaat sebelum shalat dzuhur dan sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat setelah shalat fardhu isya’.[6] Hanafi berpendapat bahwa Jika ia menghendaki, boleh shalat sunnah empat rakaat sesudah shalat dzuhur dan boleh juga dua rakaat. Sementara Imam Syafi’i juga berpendapat membolehkan shalat sunnah empat rakat setelah shalat dzuhur.[7] Dalam kitab Bulugul Maram juga dijelaskan bahwa:
وعن عمر رضی الله عنهما قال: حفظت من نبی صلی عشر رکعات رکعتین قبل الظهر، ورکعتیین بعدها، ورکعتین بعد المغرب فی بیتە، ورکعتین بعد العشإ فی بیتە، ورکتین قبل الصبح. متفق علیە. و فی روا یة لەما : ورکعتین بعد الجمعة فی بیتە.
Artinya: “Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Aku menghafal dari Nabi Saw 10 rakaat yaitu: Dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib dirumahnya, dua rakaat setelah isya’ dirumahnya, dan dua rakaat sebelum shubuh”. Muttafaq Alaihi. Dalam satu riwayat Bukhari-Muslim yang lain: dan dua rakaat sebelum jum’at dirumahnya. [8]

Sedangkan dua belas yang ghairu muakkad adalah sebagai berikut:
a.       Dua rakaat sebelum shalat dzuhur atau jum’ah
b.      Dua rakaat setelah, shalat fardu dzuhur atau jum’ah (sebagai tambahan yang muakkad)
c.       Empat rakaat sebelum shalat fardhu ashar
d.      Dua rakaat sebelum shalat maghrib
e.       Dua rakaat sebelum fardhu isya’
Tata cara pelaksanaan shalat rawatib adalah sebagai berikut:[9]
a.       Sholat dilakukan sebagaimana shalat fardhu pada umumnya
b.      Niatnya menurut macam sholat fardhunya
c.       Dikerjakan dengan munfarid (tidak berjamaah)
d.      Bacaanya tidak dikeraskan
e.       Jika lebih dari dua rakaat, maka tiap-tiap dua rakaatnya harus satu salam

Berikut adalah contoh niat shalat sunnah qobliyah maupun ba’diyyah
Niat shalat qobliyah
أصلی سنة الضهر رکعتین ڤبلیة لله تعال

Niat  shalat ba’diyyhah
أصلی سنة الضهر رکعتین بعدیة لله تعل
“Pada lafadz yang bergaris bawah, bisa diganti dengan shalat dan jumlah rakaat yang sesuai.”


2.      Shalat Tahajjud
Shalat Tahajjud adalah shalat sunnah pada malam hari yang dikerjakan setelah tidur. Jumlah rakaatnya minimal dua rakaat dan maksimal tidak terbatas.[10]  Waktunya ialah mulai dari setelah melaksanakan sholat isya’ dan telah tertidur hingga fajar terbit, Namun utamanya dikerjakan sepertiga malam, dan shalat tahajjud utamnya di kerjakan di rumah lebih baik. Keutamaan shalat tahajud sudah termaktub dalam al-qur’an surat Al-Isra’ (17): 79:
ومن اليل فتهجد به نا فلة لك عسی أن يبعثك ربك مقام محمودا.
Artinya: “Dan daris ebagian itu gunakanlah untuk bertahajud sebagai shalat sunnah bagimu, semoga tuhanmu akan membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji”. QS. Al-Isra’ (17): 79.
Jumlah rakaat shalat tahajud adalah 2 dan kelipatanya, setiap dua rakaat melakukan salam. Tata cara melaksanakan shalat tahajud sama seperti shalat fardhu pada umumnya yang membedakan hanya niatnya. Adapun niat shalat tahajud adalah sebagai berikut:
أصلی سنة التهجد رکعتین لله تعا لی
3.      Shalat witr
Witr menurut bahasa berarti ganjil. Sedangkan menurut syara’ adalah shalat sunnah muakkad dengan bilangan rakaat ganjil yang dikerjakan setelah shalat isya’ sebagai penutup rangkaian ibadah shalat hari itu.[11] Mayoritas ulama’ selain Abu Hanifah, berpendapat bahwa witr hukumnya adalah sunnah muakkad, bukan wajib. Hal tersebut sesuai dengan hadist berikut yang diriwayatkan oleh Imam lima dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah:[12]
يآ اَمَلَ الةرآن اَوْ تِرُوا فاَ ان اللهَ يحب الوتر / رواه ألخمسة وصححه إبن خزيمة
Artinya: “Hai para pecinta Al-Qur’an kerjakanlah shalat witir sebab tuhan itu tunggal (Esa). Dia suka bilangan yang ganjil (witir)”.
4.      Shalat Dhuha
Shalat dhuha ialah shalat sunnah yang diyakini dapat melancar rezeki dan di lakukan pada waktu pagi hari hingga sebelum zuhur tiba. Shalat dhuha merupakan shalat sunnah muakkad yaitu shalat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. Mengenai jumlah rakaat shalat dhuha boleh dengan dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat dan seterusnya. Hal ini sesuai dengan riwayat Imam Muslim dalam buku Ringkasan Riyadus shalihin Imam Nawawi.
رسول الله ص.م يصل الظحى أربعا, ويزيد ما شا الله
Artinya: “Rasulullah sellu mengerjakan shalat dhuha sebanyak empat rakaat dan baginda menambahkanya sesuai dengan apa yang  Allah kehendaki terhadap dirinya”. (HR. Muslim).[13]
Diantara banyak keutamakan shalat dhuha diantaranya adalalah:
1.      Allah akan mencukupkan rezeki kita seperti seperti hadist dari Nuwas bin Sam’an r.a bahwa Nabi Saw. Bersabda:
قال الله عز وجل: إبن ادامل لا تعجزن عن أربعي ركعا ت فى أول ألنهار أكفك اخره.
Artinya: “Allah aza wajalla berfirman: Wahai anak adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada permulaan siang (yakni shalat dhuha), nanti akan kucukupi kebutuhanmu pada sore hari”. (HR. Hakim dan Thabrani).
2.      Jika mengerjakan shalat dhuha dengan langgeng maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Rasulullah Saw. Bersabda:
قَالَ رَسول الله ص م. من حا فظعلى شفعة الضحى غفرله د نو به وإن كا نت مثل مثل زبرالبحر

Artinya: “Siapa saja yang dapat mengerjakan shalat dhuha dengan langgeng akan diampuni dosanya oleh Allah sekalipun dosanya itu banyak sebanyak lautan”. (HR.Turmudzi).[14]
5.      Shalat Hajat
Shalat hajat ialah shalat sunnah yang di lakukan ketika seseorang mempunyai keinginan dan berharap keinginan itu dikabulkan oleh Allah Swt. Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari Abuddarda’ bahwa Nabi saw bersabda:
مَنْ تو ضّأَ فأَ سْبَغَ الوضوء ثمّ صلّي ركعتينِ يتمُّهماَ أعْطَا هُ اللهُ ما سَأَلَ معجَّلً أوْ مُؤَ خَّراً
Artinya: “Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian bersembahyang dua rakaat dengan sempurna, maka ia diberi Allah apa saja yang diminta baik cepat ataupun lambat”.
            Jumlah rakaat shalat hajat pada umumnya adalah dua rakaat sedangkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin shalat hajat bisa dilakukan sampai 12 rakaat dengan 2 kali salam. Cara melaksanakan shalat hajat sama dengan shalat fardhu dan yang membedakan hanyalah niatnya saja.
6.      Shalat Tasbih
Shalat tasbih merupakan shalat sunnah yang dilakukan oleh Nabi saw sebagaimana yang diajarkan beliau kepada pamannya yakni sahabat Abbas bin Abdul Muthallib.[15] Shalat tasbih dianjurkan untuk dilaksanakan pada setiap malam dan apabila tidak mampu maka hendaknya dilakukan seminggu sekali, apabila masih belum bisa juga  dapat dilakukan sebulan atau setahun sekali.
Tendensi hukum shalat tasbih ialah berdasarkan hadist berikut ini:
Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepada Abbas bin Abdul Muthalib, “Wahai Abbas, pamanku, sudahkah paman aku beri, aku karuniai, aku beri hadiah istimewa, aku ajari sepuluh macam perbuatan yang dapat menghapus sepuluh macam dosa? Jika paman mengerjakan itu, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa paman, baik yang pertama dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang tanpa disengaja dan yang disengaja, yang kecil dan yang besar, yang tersembunyi dan yang terang terangan. Sepuluh macam perbuatan itu ialah: sahalat empat rakaat, tiap rakaat membaca Alfatihah dan surah, selesai membaca itu dalam rakaat pertama, lalu bacalah ketika masih berdiri, subhanallah walhamdulillah walaa illa ha illaha illallahu allahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji hanya bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar) sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’ dan dalam ruku’ ini membaca seperti bacaan diatas sebanyak 10 kali, I’tidal dari ruku’
membaca lagi 10 kali, setelah itu turun untuk sujud membaca lagi 10 kali, mengankat kepala dari sujud membaca lagi 10 kali,terus sujud membaca 10 kali. Kemudian mengangkat kepala dari sujud (sebelum berdiri) dan diwaktu duduk membaca pula 10 kali. Jadi jumlahnya ada 75 kali dalam setiap rakaat. Kamu dapat melakukannya dalam empat rakaat. Jika kamu sanggup mengerjakannya sekali dalam sehari, kerjakanlah. Jika tidak dapat, boleh setiapo Jum’at, kalau tidak dapat pula maka sebulan, kalau tidak dapat pula maka setahun sekali, dan kalau masih tidakbias juga, maka sekali dalam seumur hidup (HR. Sunan Abu Daud dan Ibnu Majah yang dishaihkan oleh Nasyriruddin Al AlBani dalam Shoheh Sunan Abu Daud no 1298).
            Teknis pelaksanaan shalat tasbih adalah apabila shalat tasbih dikerjakan empat rakaat, boleh dikerjakan dengan satu salam atau dua salam (tiap rakaat 2 salam) namun yang utama apabila dikerjakan pada siang hari hendaknya dilakukan empat rakaat dengan satu kali salam, sedangkan apabila dikerjakan saat malam hari maka empat rakaat tadi dijadikan satu salam.
7.      Shalat Taubat
Shalat taubat adalah shalat sunnah dua rakaat yang dilakukan sebagai salah satu cara bertaubat memohon ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.[16] Dalil yang menerangkan shalat sunnah adalah hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad sebagai berikut:
      ماَ منْ عَبْد يُدْ نِبُ ذنباً فيُحسِنُ الطهُور ثمّ يقُومُ فيصلِّي ركعتينِ ثمّ يَسْتَغفِرُ اللهَ الاَّ غفَرَ اللهُ لهُ
Artinya: “Tidaklah seorang hamba berbuat suatu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk shalat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya”.
            Hukum shalat taubah adalah sunnah menurut empat imam madzab fiqih yaitu Madzab maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali berdasarkan hadist di atas. Hadist di atas bermakna baha apaila seseorang muslim melakukan dosa dan hendak bertaubat dari dosannya itu maka sunnah baginya untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat dan melakukan taubat dosannya dari Allah swt.
            Tata cara pelaksanaan shalat taubah adalah seperti shalat-shalat sunnah pada umumnya  dan rakaatnya sebanyak 2 rakaat sampai 6 rakaat. Dengan sekali salam setiap 2 rakaatnya. Niat melaksanakan shalat taubah adalah seperti berikut:
أصلّي سنّة التّوبة ركعتين لله تعا لي
            Waktu pelaksanaan shalat Tubat ialah kapan saja boleh siang atau malam kecuali waktu-waktu yang dilarang dalam melakukan shalat.
8.      Shalat ‘Idain ( Shalat Idul Fitri dan Idul Adha)
Shalat idul fitri dan idul adha adalah shalat sunnah muaka karena Nabi saw. Selalu melaksanakan dan memerintahkan pria ataupun wanita untuk melaksanakannya. Waktu pelaksanaanya ialah sejak terbit matahari sampai dimulainya shalat dzuhur. Disunnahkan mengundurkan sedikit pelaksanaan shalat idul fitri untuk memberi kesempatan membagi zakat yang belum tuntas, dan menyegerakan pelaksanaan shalat idul adha untuk segera memberi kesempatan penyembelihan hewan qurban.[17]
            Mengenai pelaksanaanya para ulama’ sepakat bahwa shalat ‘Idain itu dituntut secara berjamaah, dilakukan sebanyak 2 rakaat dan diakhiri dengan khutbah. Hal tersebut sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh muttafaq alaih yaitu: “Ibnu Umar berkata: Rasulullah saw. Abu Bakar, dan Umar selalu shalat dua hari raya fitri dan adha sebelum khutbah”. (HR. Muttafaq alaih).[18]

















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Diantara banyak macam-macam shalat sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Ada shalat-shalat sunnah yang tergolong pada yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan, ada pula yang dilakukan secara berjamaah ataupun tidak berjamaah atau munfarid. Namun tetap dilaksanakan Rasulullah saw. Sebagai tauladan bagi umat islam di seluruh dunia. Dari semua shalat sunnah pada intinya adalah shalat sunnah itu dilakukan untuk menambah atau menutupi kekurangan-kekurangan ibadah wajib.




















DAFTAR PUSTAKA

Musahadi HAM, 2000, Evolusi Sikap Sunnah ( Implikasi pada Perkembangan  

Hukum Islam), ( Semarang:Aneka Ilmu ), Cet. Pertama, Hlm 5.

Djazuli, A. Zainuddin. Tt. Fiqih Ibadah. Kediri: Lembaga Ta’lif Wannasyr                        Ponpes Al-Falah.
Ibnu Hajar Al-Asqalani. 2013. Terjemahan Bulughul Maram. Jogjakarta: Hikam                           Pustaka.
Ma’shum. Tt. Tuntunan Shalat Lengkap dan Do’a-Do’a. tk: Bintang Pelajar.
Rifa’i, Mohammad. Tt.  Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang: Karya       
Toha Putra.
Sabiq, sayyid. Tt. Fiqih Sunnah. Jakarta: PT. Al-Ma’arif.
Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani. 2013. Ringkasan Riyadhus Shalihin Imam                           An Nawawi.Kuala Lumpur: Telaga Biru SDN. BHD.
Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi.2004. Fiqih                                  Empat Madzab. Bandung: Hasyimi Press.
Teungku Muhammad Hasby Ash-Shiddiqiey. 2003. Mutiara Hadist 3 Shalat.                                Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Ulfah, Isnatin. 2016. Fiqh Ibadah.  Ponorogo: STAIN po press.
Anjen Dianawati, Kumpulan Sholat-Sholat Sunnah,
Surabaya: Wahyu Media,2010



[1] Musahadi HAM, 2000, Evolusi Sikap Sunnah ( Implikasi pada Perkembangan Hukum Islam),
                ( Semarang:Aneka Ilmu ), Cet. Pertama, Hlm 5.
[2] Anjen Dianawati, Kumpulan Sholat-Sholat Sunnah,Surabaya: Wahyu Media, 2010,hlm 5
[4] Isnatin Ulfah, Fiqh Ibadah, 96.

[5] A. Zainudin Djazuli, Fiqih Ibadah, 124.
[6] Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman Ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Madzab. (Bandung: Hasyimi Press, 2004), 79.
[7] Ibid.
[8] Ibnu Hajar Al-Asqolani, Bulughul Maram. (tk: tp), 79.
[9] Ma’shum, Tuntunan Shalat Lengkap dan Do’a-Do’a, (tk: Bintang Pelajar, tt), 113.
[10] A. Zainuddin Djazuli, Fiqih Ibadah, 131.
[11] Isnatin Ulfah, Fiqih Ibadah, 97
[12] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terjemahan Bulughul Maram.(Jogjakarta: Hikam Pustaka 2013), 96
[13] Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani, Ringkasan Riyadhus Shalihin Imam An-Nawawi, (Kuala Lumpur:  elaga Biru SDN. BHD., 2013), 80
[14] Moh. Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, (Semarang: Karya Toha Putra, tt), 84-85
[15] A. Zainuddin Djazuli, Fiqih Ibadah, 135
[16] Ibid, 138
[17] Isnatin Ulfah, Fiqih Ibadah, 101
[18] Ibnu Hajar Al-asqolani,  Terjemahan Bulughul Marom, 122

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PELATIHAN PEMASARAN SECARA DIGITAL PRODUK DARI SECRET GARDEN VILLAGE : ALAT KECANTIKAN

  PELATIHAN PEMASARAN SECARA DIGITAL PRODUK DARI SECRET GARDEN VILLAGE : ALAT KECANTIKAN ...